2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Satu kereta gantung di San Francisco mengangkut 60 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 2.900 kali di 2014. Jika itu adalah kereta gantung, dibutuhkan sekitar 48 perjalanan untuk mengangkut orang sebanyak itu.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Catatan Perjalanan: Sehari di Kota Medan

Kota Medan yang sibuk ternyata menawarkan berbagai pesona yang menarik untuk dikunjungi. Meskipun waktu yang dimiliki hanya sehari, saya tetap dapat menikmati acara jalan-jalan yang cukup lengkap, mulai dari wisata budaya, religi, maupun kuliner.

Hari masih pagi, saat saya meluncur ke persinggahan pertama saya, Istana Maimoon. Ikon kota Medan yang terletak di pusat kota, tepatnya di jalan Brigjen Katamso dibangun pada 1888 di masa Sultan Deli ke-IX, Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Dengan luas bangunan sekitar 2.700m2, istana yang didesain oleh arsitek Italia ini memiliki gaya arsitektur unik, yang memadukan kebudayaan Eropa dan Islam.

Dengan tiket masuk seharga 5.000 rupiah per orang, pengunjung sudah dapat berjalan-jalan menikmati kompleks istana. Di ruang utama istana terdapat singgasana yang didominasi warna kuning, sebagai warna kebesaran kerajaan Melayu. Keindahan ruangan tercermin dari detail interior dan berbagai ornamen geometris pada lantai, dinding dan langit-langit.

Di ruangan yang didominasi warna kuning keemasan dengan aksen hijau ini, pengunjung dapat melihat-lihat berbagai perabot antik yang pernah digunakan, serta foto-foto sultan dan keluarga istana. Pengunjung juga bisa mengabadikan kenangan berkunjung ke tempat ini dengan berfoto di depan singgasana Sultan menggunakan kostum khas kesultanan Deli. Untuk itu pengunjung hanya perlu membayar biaya sewa kostum sebesar 10.000 rupiah per orang.

Sebenarnya mulai pukul 10, digelar pertunjukkan musik melayu yang juga menarik minat para pengunjung. Sayang, saya harus segera pergi. Saya hanya sempat membeli beberapa cendera mata. Di komplek istana ini memang terdapat banyak penjual cendera mata seperti hiasan, kaos, dan berbagai macam kain dengan motif ulos.

Istana Maimoon (doc. Asri)

Istana Maimoon (doc. Asri)

Selanjutnya saya melangkahkan kaki ke Masjid Raya Medan atau masjid Al-Maksum, yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari istana. Masjid berbentuk heksagonal ini dibangun pada 1906 hingga 1909 dengan memadukan gaya Timur Tengah dan Eropa. Sebagai pelindung dari sorotan sinar matahari dan tempias air hujan, seluruh beranda masjid dipagari oleh tembok dengan pilar-pilar dan lubang angin, menghadirkan kesejukan ke dalam ruangan. Keindahan masjid ini tampak pada bentuk bangunan yang unik dan kokoh, serta bentuk kubah yang tidak biasa. Fasad yang penuh detail, serta kaca-kaca patri bergaya art noveau bermotif flora berwarna-warni membuatnya tampak lebih menarik.

Di bagian dalam, terdapat delapan pilar besar yang menopang atap berbentuk kubah dengan detail yang cantik. Sebuah lampu antik besar yang masih asli tampak tergantung di tengah ruangan. Di depan, berdiri sebuah mihrab tinggi yang terbuat dari marmer. Saya pun menyempatkan diri untuk sholat di masjid ini dan merasakan ketenteraman saat berada di dalamnya.

Masjid Raya Medan )doc. Asri)

Masjid Raya Medan )doc. Asri)


Bertemu Aneka Binatang Buas
Baru kali ini saya berhadapan langsung dengan berbagai binatang buas. Beberapa di antaranya berukuran lebih besar dari yang saya bayangkan. Tapi ini bukan di hutan. Binatang-binatang asli ini terdapat di Rahmat International Wildlife Museum and Gallery atau lebih dikenal dengan nama Galeri Rahmat.

Museum sekaligus galeri yang terletak di jalan S. Parman 309 ini berisi ribuan spesies binatang dari dalam dan luar negeri, yang diawetkan dan dikoleksi secara legal oleh Bapak Rahmat Shah, seorang pengusaha dan pemburu profesional. Galeri yang ditujukan sebagai media untuk memperkenalkan keanekaragaman satwa liar kepada masyarakat ini ditata dengan rapi dan menarik dalam ruangan berlantai tiga. Ribuan binatang mulai dari aneka serangga (bahkan nyamuk), binatang laut, reptil, burung-burung, hingga mamalia besar, termasuk gajah dan jerapah, ditempatkan berkelompok sesuai dengan jenis dan habitatnya. Sangat menarik.

Dari kunjungan ini saya mendapat gambaran tentang aneka satwa liar yang biasanya hanya bisa dilihat di media cetak dan elektronik, karena sebagian besar juga tidak dapat ditemukan di kebun binatang. Tiket masuk seharga 25 ribu per orang rasanya cukup sepadan dengan manfaat yang didapatkan.

Salah satu sudut Rahmat Gallery (doc. asri)

Salah satu sudut Rahmat Gallery (doc. asri)


???????????????????????????????
Rumah Orang Terkaya Medan
“Belajarlah sampai ke negeri Cina”, demikian salah satu pesan bijak yang sering terdengar, menunjukkan pengakuan atas keistimewaan yang dimiliki oleh orang-orang Cina. Dan rupanya untuk itu tidak perlu jauh-jauh pergi ke negeri tirai bambu, karena di Medan kita juga dapat belajar banyak dari seorang tokoh bernama Tjong A. Fie. Karena itulah saya memutuskan untuk berkunjung ke Tjong A Fie Mansion, rumah besar warisan orang terkaya di Medan asal Tiongkok yang menyimpan kisah keberhasilan yang pernah dicapai di masa lalu.

Tjong A. Fie (1859 – 1922) adalah seorang saudagar yang berasal dari Tiongkok dan merantau ke Medan. Dengan keuletan usaha dan kepandaiannya bergaul dengan berbagai kalangan, ia berhasil mengubah kehidupannya dari seorang kacung menjadi konglomerat yang menguasai bisnis tembakau, teh, dan kelapa sawit, serta merambah berbagai bisnis lainnya, termasuk perbankan. Keberhasilan itu menasbihkan dirinya menjadi orang terkaya di Medan pada masa itu. Ia juga dikenal sebagai seorang dermawan yang banyak mendukung pembangunan kota Medan di masa pemerintahan Sultan Deli.

Rumah seluas 4.000m2 itu berisi mebel dan perabotan antik yang sangat mewah pada masanya, yang kebanyakan didatangkan dari luar negeri seperti Eropa dan China, begitu juga seluruh ubin lantainya yang elegan, yang didatangkan dari Italia. Berbagai peranti makan berkelas juga memenuhi lemari-lemari di berbagai ruangan. Semua ditempatkan sesuai dengan keadaannya semula. Aneka berkas kegiatan bisnis, stempel, dan koran kuno masih tersimpan dengan apik di beberapa meja kerja. Saya terkesan dengan beberapa barang antik yang unik di sini, seperti timbangan badan kuno, peralatan dapur kuno, piano, maupun brankas yang tampak sangat berat. Dari foto-foto dan berbagai catatan yang banyak terpajang di dinding saya pun mendapat gambaran tentang sepak terjang Tjong A Fie hingga akhir hayatnya.

Sebelum meninggalkan rumah Tjong A Fie, saya membeli beberapa buku yang mengulas kedatangan imigran-imigran Cina dan kiprahnya di bumi Nusantara serta sebuah buku memoar yang ditulis oleh salah satu keturunan Tjong A Fie.

Salah satu sudut Tjong A Fie mansion (doc. Asri)

Salah satu sudut Tjong A Fie mansion (doc. Asri)

???????????????????????????????

Menikmati Kuliner Medan
Pada jam makan siang, saya memutuskan untuk meluncur ke kawasan Setiabudi, menyambangi Mie Aceh Titi Bobrok. Selain menyajikan aneka mie aceh, warung yang berdiri sejak 1996 ini juga dikenal dengan beberapa menunya, antara lain mie kepiting dan sate kerang. Racikan bumbunya yang kaya rempah-rempah semakin terasa nikmat saat disantap bersama acar, emping melinjo, dan irisan mentimun.

Sambil lalu, saya kemudian mampir di Pusat Pasar, salah satu pasar tradisional yang menjadi pusat penjualan teri Medan. Begitu banyak penjual teri yang menjual aneka teri dengan berbagai jenis, ukuran dan harga. Harga di antara para penjual itu relatif sama, sekitar 40rb – 70rb per kilo. Saya pun membeli beberapa kilo teri ukuran kecil, sesuai pesanan teman-teman saya, dengan harga Rp 70.000 per kilo.

Tujuan saya selanjutnya adalah jalan Iskandar Muda, untuk mencicipi durian “Ucok”. Kios durian legendaris yang buka 24 jam ini dipenuhi para pecinta durian. Begitu duduk, pelayan datang dan menawarkan pilihan durian, manis atau pahit. Durian pahit yang dimaksud adalah durian jenis tertentu yang rasanya manis-asam. Tak lama kemudian pesanan pun datang dan langsung dibelah oleh pelayan. Entah bagaimana, semua durian yang disajikan di sini berkualitas baik dengan rasa sesuai dengan yang diinginkan. Kalaupun tidak, boleh ditukar langsung tanpa biaya tambahan. Saya pun akhirnya dapat menikmati kelezatan durian Medan yang tak pernah mengenal musim itu.

Keramaian di durian Ucok (doc. Asri)

Keramaian di durian Ucok (doc. Asri)

Berikutnya saya berburu oleh-oleh khas Medan; bika ambon dan sirup markisa. Ada banyak pilihan bika ambon di seputar kota Medan. Semua memiliki keistimewaan masing-masing. Saya memilih salah satu toko di jalan Mojopahit yang ternyata dipenuhi pembeli. Ada beberapa varian rasa, yaitu original, pandan, dan keju dengan harga yang cukup terjangkau, ukuran kecil 25 ribu dan ukuran besar 50 ribu per loyang. Di sini juga tersedia berbagai jenis sirup markisa dengan harga 30 ribu hingga 55 ribu per botol.

Sambil berjalan pulang ke penginapan, saya mampir ke Medan Merdeka Walk, menikmati suasana malam ala Medan. Kawasan ini terkenal sebagai pusat jajan yang semakin ramai saat malam hari. Saya juga sempat menikmati keindahan beberapa bangunan “heritage” peninggalan kolonial yang terdapat di seputar Merdeka Walk, seperti gedung London Sumatera, gedung pos, dan gedung Bank Indonesia. Sayang, beberapa bangunan tampak kosong dan tak terawat, mengingatkan saya pada kawasan Asia Afrika, Bandung. Hampir sama.

Hiks… ada yang kelupaan; pancake durian dan bolu Meranti 😦 Semoga kapan-kapan saya bisa kembali ke Medan lagi 🙂

Salah satu bangunan heritage di seputar Medan Merdeka Walk (doc. Asri)

Salah satu bangunan heritage di seputar Medan Merdeka Walk (doc. Asri)

Dipublikasi di Catatan Perjalanan | Tag , , , , | 6 Komentar

10 Buku Paling Berpengaruh (buat saya)

Menarik, postingan teman-teman tentang 10 Buku yang paling berpengaruh dalam hidup. Saya jadi ingin ikut-ikutan merunut kembali buku-buku (umum) yang pernah saya baca yang kemudian mewarnai kehidupan saya.

Zaman SD:
1. Serial Tintin (Herge)
2. Serial Lima Sekawan, Sapta Siaga, Trio Detektif
(haish..ini sih 3 ya? Mau gimana lagi. Susah dipisahkan 😀
Serial ini sudah sukses mengasah imajinasi saya tentang petualangan yang asik. Dari situ juga saya kenal roti lapis, sebongkah daging asap, puri, markas, caravan, kaum Gipsy. Lumayan… jadi agak kenal dunia luar 😀
3. Serial Malory Towers (Enid Blyton)
Serial kehidupan di asrama para gadis ini sudah ikut membentuk kecerdasan interpersonal saya. Dari sini saya belajar bagaimana menempatkan diri dengan baik di lingkungan sosial. Buku yang bagus untuk anak-anak.

Zaman SMP
Baru sadar, di masa ini saya jarang baca buku. Mungkin karena merasa cukup baca majalah remaja yang saat itu memang ngetop: Gadis dan Mode Indonesia 🙂
Ada pengaruhnya? Mm.. ada juga, setidaknya saya bisa sedikit gaul 😀

Zaman SMA:
3. Robohnya Surau Kami (A.A Navis)
4. Merahnya Merah (Iwan Simatupang)

Terima kasih untuk Pak Saras Ahmadi, guru favorit saya di SMA, yang betul-betul berperan sebagai pendidik, bukan sekadar pengajar. Dulu kami ditugasi membaca buku-buku sastra angkatan ’66 plus mewawancarai beberapa sastrawan yang tinggal di Bandung. Dari situ saya berkenalan dengan keindahan bahasa dan pengaruhnya dalam kebudayaan.Sangat berkesan.

Zaman kuliah:
5. Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Emha)
6. Indonesia Bagian dari Desa Saya (Emha)

Di masa saya sedang semangat mengkaji ajaran Islam, dua buku ini melengkapi pemahaman saya tentang makna keshalihan sosial, juga membuka mata saya pada masalah sistemik yang nyata ada.
Sebetulnya di masa ini saya punya buku-buku Emha lengkap sekali, mulai dari Lautan Jilbab, Yang Terhormat Nama Saya, dan banyak lagi. Tapi buku-buku itu rupanya banyak peminatnya. Satu per satu dipinjam, dan.. tak pernah kembali. Hiks.. 😦

Zaman dewasa:
7. Totto-Chan (Tetsuko Kuroyanagi)
8. Cahaya Rumah Kita (Miranda Risang Ayu)
9. Rich Dad Poor Dad (Robert Kiyosaki)
10. Tetralogy Laskar Pelangi (Andrea)

Tak perlu dijelaskan lagi pengaruh buku-buku ini. Luar biasa!
Totto Chan dan Cahaya Rumah Kita mewarnai pola pengasuhan yang saya terapkan di keluarga. Rich Dad Poor Dad jelas menjadi konsep manajemen keuangan di keluarga saya, dan Laskar Pelangi… hmm, seperti itulah seharusnya saya menulis; menginspirasi banyak orang.

Buku-buku ini luar biasa, bagi saya. Buku apa saja yang berpengaruh buat teman-teman pembaca?

Sebagian buku-buku itu

Sebagian buku-buku itu

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Lebih Semangat dengan Quran Cantik

Quran Syaamil yang ini jadi semacam kojo buat saya. Kojo, dalam bahasa Sunda artinya sesuatu yang jadi andalan. Ini bukan tentang peruntungan, hanya tentang bagaimana saya merasa ada yang kurang saat tidak menggunakan Quran kojo saya. Quran produksi Syamil ini telah saya pakai sejak sekitar 7 tahun yang lalu. Sudah agak lecek, penuh dengan coretan stabilo untuk menandai ayat-ayat yang saya anggap penting, memudahkan saya untuk mencari ayat yang dimaksud. Nah, kalau sedang pengajian, tanpa menggunakan Quran ini, saya jadi merasa kesulitan untuk menemukan ayat-ayat yang saya perlukan (salah sendiri, mestinya memang sudah hapal supaya nggak lupa lagi >.<)

???????????????????????????????

Alhamdulillah, Quran Syamil hadiah suami ini sudah menemani saya selama 7 tahun. Ukuran hurufnya standar, sehingga mudah dibaca. Quran terbitan 2006 ini juga sudah dilengkapi tajwid, footnote (penjelasan tentang beberapa ayat), dan kolom notes untuk mencatat sesuatu. Sayangnya footnote-nya seringkali tidak berada di halaman yang sama, sehingga kadang-kadang saya harus membolak-balik halaman sesudahnya. Mungkin karena ada keterbatasan tempat di halaman yang sama.

Penerbit Syaamil, yang memiliki lini khusus untuk menerbitkan Al-Quran, tampaknya termasuk penerbit yang rajin melakukan inovasi produk. Yang paling menarik, menurut saya, adalah kitab Quran yang sudah dilengkapi tajwid, kitab Quran yang dilengkapi tafsir kata per kata, dan kitab Quran edisi cantik yang ditujukan untuk kaum muslimah. Ini adalah sebagian dari inovasi yang dilakukan Syaamil untuk membuat konsumen semakin tertarik, bangga, dan dekat pada Al-Quran.

Beberapa macam kitab Al-Quran (doc. pribadi)

Beberapa macam kitab Al-Quran (doc. pribadi)

Syaamil juga menyediakan produk yang dapat membantu keluarga muslim untuk mempelajari Al-Quran dengan cara yang menarik. Produk Al-Quran untuk keluarga yang dilengkapi e-Pen  ini bernama Paket Family (e-Pen Smile). Dengan menggunakan paket yang  terdiri dari 2 mushaf al-Quran  yaitu Al-QuranSyaamil For Kids My First Al-Quran dan Syamil Miracle 22 in 1, keluarga dapat bersama-sama mempelajari Al-Quran dengan cara yang menyenangkan. Keduanya memiliki banyak kelebihan daripada mushaf al-Quran pada umumnya. Dan tentu saja, kelebihan utamanya adalah bisa dibaca atau dibunyikan dengan e-Pen.

2-in-1

Syaamil juga tanggap dengan perubahan zaman. Dengan semakin mobile-nya kehidupan masyarakat, kebutuhan untuk dapat tetap membaca Al-Quran dengan praktis juga muncul. Maka kemudian, Syaamil pun meluncurkan aplikasi digital Al-Quran yang dilengkapi dengan tafsir, hadits, khazanah pengetahuan, panduan tajwid, bahkan panduan untuk mengamalkan ayat-ayat AlQuran dan audio murotal serta konten lainnya. Dengan adanya kitab Al-Quran versi digital ini, masyarakat akan semakin mudah mendekatkan diri dengan Al-Quran nyaris tanpa kendala berarti. Tak hanya itu, Syaamil juga meluncurkan smartphone yang sudah dilengkapi dengan aplikasi built-in konten islami yang lengkap, mulai dari Al-Quran, tafsir, pedoman mengamalkan Al-Quran hingga game edukatif untuk anak-anak.

Semua inovasi ini diupayakan  Syaamil untuk mendukung #SemangatQuran, sebuah pesan moral kepada masyarakat luas di Indonesia agar menjadikan Al-Quran sebagai penyemangat harian dalam segala aktivitas apa pun yang bernilai kebaikan. Inilah salah satu misi yang diemban oleh lembaga penerbitan ini. Dengan tagline ‘Semangati Harimu dengan Al-Quran’,  Syaamil mengajak umat untuk lebih akrab dengan Al-Quran  agar lebih memahami isi dan mengambil setiap hikmah dari ayat-ayat Allah swt .

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Parade Ngeblog IKAPI Jabar & Syaamil Quran #PameranBukuBdg2014

widget-lomba

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Catatan Tentang Buku

Buku, adalah satu-satunya jenis benda yang sering saya beli tidak hanya di saat butuh, tapi juga saat ingin. Tapi tentu saja tetap harus disesuaikan dengan anggarannya, supaya tidak berlebihan. Waktu masih muda dan single (hiks..), saya sering betul-betul kalap saat berburu buku, buku apa pun yang menarik saya beli. Bahkan saya pernah menghabiskan separuh gaji satu bulan saya untuk memborong buku dalam sekali datang ke pameran (dan baru sadar setelah sampai di rumah >.<). Seiring dengan pertambahan umur, saya mulai belajar jadi pembeli yang rasional. Sebelum membeli buku saya akan mempertimbangkan beberapa hal:

Manfaat; Bermanfaat di sini macam-macam artinya, bisa karena menambah pengetahuan atau keterampilan, bisa juga karena menghibur. Meskipun hampir semua buku relatif akan bermanfaat, saya kini mulai menimbang-nimbang, apakah buku tersebut akan benar-benar berguna untuk saya, karena bisa jadi buku sejenis sebenarnya sudah saya miliki, hanya tinggal membaca ulang (dan diamalkan :). Maka biasanya saya akan melihat daftar isi sebelum mengambil keputusan. Kalau bukunya masih disegel rapi, saya akan minta izin pada petugas toko untuk membukanya. Kalau sedang rajin, saya juga akan searching dulu di internet untuk mengetahui review dari para pembacanya.

Penulis; Meskipun tidak selalu, nama dan kredibilitas penulis seringkali mempengaruhi pengambilan keputusan saya dalam membeli buku. Maka, saya sering membaca profil penulis yang biasanya terdapat pada sebuah buku. Tapi ini tidak mutlak, karena sering juga saya menemukan buku-buku bagus yang ditulis oleh penulis yang namanya baru saya kenal.

Isi; Menjengkelkan jika saat membaca kita menemukan pembahasan yang tidak sistematis, kalimat yang rancu, informasi yang membingungkan,  atau terjemahan ala “google translate”. Begitu juga jika layout buku tidak nyaman dilihat. Karena itu hal-hal seperti ini sering menjadi pertimbangan saya sebelum membeli buku.

Harga; Meskipun relatif, harga yang rasional tetap menjadi pertimbangan saya, disesuaikan dengan kualitas buku dan manfaat yang akan saya dapatkan.

Sebagai penikmat buku, sedikit-banyak saya jadi ikut mengamati perkembangan buku di Indonesia. Rasanya, secara kuantitas, perkembangan buku di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Beragam buku dengan beragam genre dapat dengan mudah ditemukan di pasaran (menurut informasi, ternyata ini masih jauh ketinggalan dibandingkan perkembangan buku di negara-negara lainnya). Tapi dalam pengamatan saya, perkembangan kuantitas ini belum diimbangi oleh peningkatan kualitasnya. Buku-buku yang relatif bagus (seperti text-book, buku pengetahuan, buku-buku how to, fiksi) masih didominasi oleh buku-buku terjemahan yang ditulis oleh penulis luar, padahal Indonesia pun memiliki banyak profesional dari kalangan akademisi, kalangan ilmuwan, sastrawan, dan penulis-penulis fiksi yang mumpuni.

Dari segi penyajian, masih banyak buku yang sepertinya disiapkan dengan terburu-buru (entah mengejar apa), seperti tidak melibatkan editor yang andal. Sistematika penyajian yang amburadul, logika bercerita yang membingungkan, kalimat yang tidak enak dibaca, ejaan yang tidak tepat, data yang tidak akurat, kesalahan penerjemahan, adalah sebagian di antaranya.

Mengadakan buku yang berkualitas, sepertinya memang masih menjadi masalah yang pelik di Indonesia. Dimana masalahnya? Mungkin kita memang harus memperhatikan adanya 5 pilar dalam industri buku (sumber: http://bintangsitepu.wordpress.com)

  1. Pencipta Ide (Pengarang, penulis, penerjemah, penyadur)
  2. Penerbit (manajemen, pengelola, perancang, editor, ilustrator
  3. Percetakan (manajemen, setter, penata letak, pembuat film, operator cetak)
  4. Distributor (agen penerbit, penyalur, toko/kios buku, perpustakaan)
  5. Pemakai (siswa, mahasiwa, guru, orang tua, masyarakat, lembaga lainnya)

Kelima pilar ini merupakan bagian penting dalam industri buku yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Buku yang bagus akan dihasilkan oleh adanya sinergi dari kelima pilar tersebut. Karya yang bagus dari seorang penulis belum tentu bisa sampai ke tangan pembaca tanpa kerja keras penerbit, percetakan dan distributor. Demikian pula penerbit, kelangsungan bisnisnya akan sangat tergantung pada ketersediaan naskah, upaya pemasaran yang melibatkan distributor, serta daya beli masyarakat. Dan seterusnya, saling berkaitan.

Ternyata memang cukup krusial juga dunia perbukuan itu. Sebagai pemakai, tampaknya ada beberapa peran yang bisa saya lakukan untuk ikut menunjang perkembangan industri buku di Indonesia, di antaranya:

1. Hanya membeli buku asli, bukan bajakan

2. Bersikap proaktif dalam memberi kritik, saran, pendapat, baik kepada penulis, penerbit, percetakan maupun distributor

3. Belajar jadi penulis yang menghasilkan karya berkualitas

 

Langkah yang sederhana, mungkin. Tapi semoga bisa cukup berguna.

 

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Parade Ngeblog IKAPI Jabar & Syaamil Quran

#PameranBukuBdg2014

widget-lomba

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kiprah IKAPI dalam Dunia Literasi Indonesia

Nama IKAPI sering terdengar, sebagai penyelenggara berbagai pameran buku di Indonesia. Padahal ternyata kiprah organisasi yang didirikan tanggal 17 Mei 1950 itu tak hanya sebatas menyelenggarakan pameran.

IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) merupakan asosiasi profesi penerbit yang menghimpun para penerbit buku dari seluruh Indonesia. Organisasi yang diprakarsai oleh Sutan Takdir Alisjahbana, M. Jusuf Ahmad, dan Nyonya A. Notosoetardjo ini lahir berdasarkan idealisme untuk mencerdaskan bangsa dan memajukan perbukuan nasional.

Sejak didirikannya, IKAPI telah banyak berperan dalam mengembangkan dunia literasi Indonesia. Selain memfasilitasi para anggotanya dalam mengembangkan industri perbukuan yang sehat, IKAPI juga banyak mengadakan program-program edukasi untuk meningkatkan minat baca-tulis di kalangan masyarakat Indonesia. Mendirikan perpustakaan desa, menyelenggarakan pameran, pelatihan, dan lomba, adalah sebagian dari program edukasi tersebut. Melalui program publikasi hasil penelitian, IKAPI juga telah membantu mengoptimalkan peran lembaga pendidikan tinggi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu IKAPI juga telah berupaya mengenalkan produk-produk literasi Indonesia di kancah internasional melalui berbagai pemeran maupun konggres, sehingga produk literasi Indonesia mulai dilirik oleh kalangan perbukuan interanasional. Semua kiprah ini sesuai dengan misi yang diemban IKAPI, yaitu:

Ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui upaya penciptaan iklim perbukuan yang kondusif,pengembangan sistem perbukuan yang kompetitif, dan peningkatan profesionalisme asosiasi serta para anggotanya sehingga perbukuan nasional mampu berperan secara optimal demi mempercepat terbentuknya masyarakat demokratis terbuka dan bertanggung jawab.

Jika saya menjadi salah satu pengurus IKAPI saya ingin mengusulkan pembentukan Dewan Kode Etik Penerbitan. Tampaknya ini belum terdapat dalam struktur organisasi IKAPI Pusat maupun Daerah (kecuali jika Kompartemen Hukum dan Hak Cipta juga menangani contoh kasus di bawah ini. Cmiiw). Mengapa menurut saya ini penting? Karena saat ini sering terjadi beberapa masalah (kasus) yang berhubungan dengan etika penerbitan, yang harus segera disikapi agar tidak menghambat perkembangan industri penerbitan yang sehat. Contohnya:

–  Masalah pelanggaran norma susila. Beberapa kasus buku yang memuat hal-hal yang tidak sesuai dengan norma masyarakat Indonesia (seperti pornografi, SARA) tampaknya perlu mendapat perhatian khusus.
– Masalah pemenuhan hak penulis atas royalti. Dari beberapa grup penulisan di media sosial, saya mendapatkan informasi tentang banyaknya kasus penulis yang tidak mendapatkan hak yang wajar atas karya tulis yang diterbitkan oleh penerbit.

Semoga dengan adanya Dewan Kode Etik Penerbitan seperti ini, IKAPI akan semakin  dapat mengoptimalkan perannya dalam mengembangkan iklim positif penerbitan buku dan dunia literasi di Indonesia.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Parade Ngeblog IKAPI Jabar & Syaamil Quran
#PameranBukuBdg2014

widget-lomba

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Memilih Kitab Al-Quran Sesuai Kebutuhan

Semangat untuk semakin akrab dengan Al-Quran pada masyarakat Indonesia terasa semakin meningkat. Metode belajar membaca Al-Quran pun semakin beragam, menjangkau berbagai tingkat usia dan tingkat sosial. Berbagai majelis untuk mempelajari Al-Quran tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Bahkan berkembang juga komunitas mengaji secara kolektif untuk menggerakkan anggotanya agar semakin sering membaca Al-Quran beserta tafsirnya, minimal satu juz per hari.

Kondisi ini mendorong tumbuhnya kebutuhan akan kitab Al-Quran yang memadai, yang direspon secara positif oleh para penerbit. Berbagai jenis kitab Al-Quran banyak tersedia di pasaran, mulai dari yang bentuknya klasik hingga yang berwujud aplikasi digital. Dengan tersedianya beragam bentuk kitab Al-Quran ini, kaum muslimin semakin dimudahkan untuk memilih kitab Al-Quran sesuai dengan kebutuhan.

Dulu, saya merasa cukup menggunakan Al-Quran klasik yang memuat ayat-ayat Al-Quran saja ditambah juz ‘amma untuk memahami arti dari surat-surat pendek dalam juz 30. Beranjak dewasa saya merasa perlu memahami arti dari ayat-ayat Al-Quran itu, sehingga kemudian menggunakan Al-Quran yang dilengkapi tafsirnya.

Selanjutnya di pasaran bermunculan kitab-kitab Al-Quran yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memudahkan para pembacanya untuk memahami Al-Quran dengan lebih baik. Ada kitab yang dilengkapi tajwid, sehingga mendukung upaya untuk membaca Al-Quran dengan lebih sempurna, ada yang dilengkapi dengan asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) yang menjelaskan dengan lebih rinci terjemahan Al-Quran, adapula yang memuat terjemahan kata per kata, sehingga pembaca juga dapat belajar memahami bahasa Al-Quran. Saya pun akhirnya menggunakan Al-Quran yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang bermanfaat ini.

Beberapa macam kitab Al-Quran (doc. pribadi)

Beberapa macam kitab Al-Quran (doc. pribadi)

Tampilan fisik Al-Quran juga semakin beragam, baik ukuran maupun desainnya. Kitab Al-Quran tampil semakin menarik dengan desain yang memikat. Bahkan ada penerbit Al-Quran yang menyediakan Al-Quran khusus berdasarkan segmentasi tertentu. Al-Quran yang dilengkapi terjemahan untuk anak-anak tampil menarik dengan desain berwarna-warni dan ukuran huruf yang sesuai untuk anak-anak. Kaum muslimah juga tampak stylish dengan pilihan Al-Quran khusus muslimah yang memiliki desain-desain feminin yang cantik.

Dengan semakin mobile-nya kehidupan masyarakat, kebutuhan untuk dapat tetap membaca Al-Quran dengan praktis juga muncul. Maka kemudian, salah satu kelompok penerbit yang memang memiliki lini khusus dalam memproduksi Al-Quran telah meluncurkan aplikasi digital Al-Quran yang dilengkapi dengan tafsir, hadits, khazanah pengetahuan, panduan tajwid, bahkan panduan untuk mengamalkan ayat-ayat AlQuran dan audio murotal serta konten lainnya. Dengan adanya kitab Al-Quran versi digital ini, masyarakat akan semakin mudah mendekatkan diri dengan Al-Quran nyaris tanpa kendala berarti.

Al-Quran yang bagaimana lagi yang belum ada? Berbagai pilihan sudah tersedia dengan mudah, sehingga tak ada alasan lagi untuk tidak bersentuhan dengan Al-Quran kapanpun dan dimanapun. Rupanya, tinggal niat dan kemauan saja yang harus dikuatkan. Semangat! (self-reminder)

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Parade Ngeblog IKAPI Jabar & Syaamil Quran
#PameranBukuBdg2014

widget-lomba

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar